Surat Dari Peran Lama.
Halo. Tulisan ini dibuat dengan penuh penyesalan dan kerinduan untuk berubah menjadi versi diriku yang jauh lebih baik.
Bukan hanya agar dimaafkan, tapi agar tak ada lagi hati yang kusakiti karena luka yang belum kupulihkan.
Semoga Allah terus membimbing langkahku… dan menjaga hati-hati yang pernah tulus padaku.
Bukan hanya agar dimaafkan, tapi agar tak ada lagi hati yang kusakiti karena luka yang belum kupulihkan.
Semoga Allah terus membimbing langkahku… dan menjaga hati-hati yang pernah tulus padaku.
Baik, dalam tulisan ini aku tidak ingin membela diriku. Aku akui, aku salah.
Terlalu welcome pada banyak orang, terlalu mudah memberi mereka harapan, bahkan saat aku sendiri belum selesai dengan lukaku. Aku memaksakan hidup dengan kedok balas dendamku, ya seolah sedihku bisa jadi pembenaran untuk membuka pintu baru, padahal fondasinya rapuh.
Terlalu welcome pada banyak orang, terlalu mudah memberi mereka harapan, bahkan saat aku sendiri belum selesai dengan lukaku. Aku memaksakan hidup dengan kedok balas dendamku, ya seolah sedihku bisa jadi pembenaran untuk membuka pintu baru, padahal fondasinya rapuh.
Aku menjadikan kesedihanku alasan.
Masalahku seolah jadi milik bersama, padahal bukan tanggung jawab mereka untuk ikut menanggungnya. Mereka hadir dengan niat menyembuhkan, tapi aku malah menyeret mereka ke luka yang lebih dalam. Aku menyakiti mereka. Aku menyepelekan perasaan mereka.
Dan sekarang… aku baru sadar bahwa aku takut.
Takut pada pembalasan.
Takut pada doa-doa diam yang mungkin melayang di tengah malam yang bisa jadi itu bukan doa yang baik.
Takut pada doa-doa diam yang mungkin melayang di tengah malam yang bisa jadi itu bukan doa yang baik.
Aku tak peduli siapa yang menyakitiku dulu, aku pasti sudah maafkan. Karena yang kuingat, aku pun pernah salah dan membuat mereka bersedih. Aku minta maaf.
Tak apa jika mereka ingin membenciku karena saat itu, aku memang jahat. Jahat dengan memanfaatkan ketulusan mereka.
Tak apa jika mereka ingin membenciku karena saat itu, aku memang jahat. Jahat dengan memanfaatkan ketulusan mereka.
Bodohnya aku, lebih bodohnya lagi aku tahu. Tapi aku ingin semua ini usai. Cukup. Aku tak ingin mengulangi permainan hati itu lagi.
Rasa takut akan karmaku makin sulit aku simpan sendirian. Aku tahu aku menyakiti mereka. Tapi semoga, dari tempat mana pun mereka berada, mereka bisa memaafkanku. Semoga Allah melembutkan hati mereka. Semoga Allah bahagiakan mereka sepenuhnya. Semoga Allah tetap menjadikan mereka orang-orang baik yang pernah kutemui. Dan semoga… Allah tetap menolongku.
huft.. untung saja mereka diselamatkan Allah dariku. Intinya aku hanya ingin peranku sebagai tokoh jahat itu usai.
Ini penyesalan, dan ini permohonanku.
Maafkan aku walau aku tidak mungkin lagi menyampaikannya secara langsung karena aku sangat menghargai kehadiran pasanganku saat ini.
Semoga Allah memudahkan hidup mereka.
huft.. untung saja mereka diselamatkan Allah dariku. Intinya aku hanya ingin peranku sebagai tokoh jahat itu usai.
Ini penyesalan, dan ini permohonanku.
Maafkan aku walau aku tidak mungkin lagi menyampaikannya secara langsung karena aku sangat menghargai kehadiran pasanganku saat ini.
Semoga Allah memudahkan hidup mereka.
Komentar
Posting Komentar