Postingan

Menampilkan postingan dari Juli, 2025

Tulisan Untuk G #5 : Gimana?

Ada saat-saat di mana aku ngerasa hubungan ini nggak lagi bergerak. Bukan karena kita saling nggak sayang, tapi karena kita terlalu diam. Terlalu nyaman dalam rutinitas, sampai lupa bahwa rasa juga butuh dirawat. Aku ngerasa kita sekarang sama-sama bosan dengan situasi sekarang. Tapi kamu kayak nggak sadar. Atau pura-pura nggak sadar? Kita kayak terjebak dalam rutinitas yang ngebosenin. Nggak ada yang diusahakan bareng, nggak ada langkah kecil yang bikin kita merasa ‘hidup’. Kamu sibuk dengan duniamu sendiri, menghibur diri sendiri, tapi lupa nanya gimana caranya kita bertahan bareng. Aku tahu rasa bosan itu wajar. Tapi yang bikin aku sedih, bukan rasa bosannya—melainkan bagaimana kamu seakan nggak peduli untuk keluar dari situ. Kamu terlihat tenang-tenang saja. Seolah semuanya baik-baik aja. Padahal aku di sini ngerasa kosong. Aku pengin kita ngobrol dari hati ke hati, tapi kamu selalu salah paham. Nada suaramu naik, matamu seolah bilang aku ini nyari masalah. Padahal aku cuma butuh d...

Sasa dan Misi Rahasianya

Suatu malam, saat Sasa lagi nulis di atas kasur dengan posisi tengkurap dan rambut diiket asal kayak tahu bulat, ia menulis tiga halaman curhat yang... yah, isinya 40% keluhan, 20% pengakuan dosa kecil, 30% harapan setengah hidup, dan 10% quote ngarang biar terlihat bijak. Beberapa hari ini Sasa mikir, hidup kayak ngeledek. Coba ini itu gagal, temen – temen udah pada sibuk kerja.. nikah.. sementara Sasa, sibuk atur nafas. Ia nulis: “Kenapa hidup aku kayak nunggu paket yang statusnya udah ‘on the way’ dari dua tahun lalu?” Dan saat tinta terakhir itu mengering, tiba-tiba bukunya bersinar. Tapi bukan terang yang bikin silau, melainkan hangat, kayak pelukan dari semesta yang lama ditunggu. Lalu muncul makhluk kecil seukuran rice cooker. Bulunya biru pastel, matanya besar, kupingnya kayak telinga kucing tapi ada antenanya. Namanya Bij. “Selamat malam, Sasa!” katanya. “Kamu terpilih.” “Terpilih buat apa? Jadi Miss Overthinking 2025? Lah emang kamu siapa? Bogel gini?” jawab Sasa. “Bukan mis...

Tulisan untuk G #4: Aku takut kehilangan "kita"

Ada yang ingin aku sampaikan, meski berkali-kali kutunda karena takut…  takut kamu makin lelah, takut kamu berpikir aku ini beban, takut kamu menjauh. Padahal, yang aku rasakan akhir-akhir ini bukan marah, bukan ngambek, bukan cemburu bodoh yang nggak beralasan. Tapi… takut. Takut kita yang dulu penuh tawa dan percakapan, pelan-pelan kehilangan spark-nya. Takut kalau kamu terus sibuk, capek, rutinitas menyita semuanya, lalu komunikasi yang kita punya cuma sisa chat singkat dan telfon hening. Lalu kita terbiasa. Lalu semuanya hambar. Lalu aku... hilang. Aku lagi berusaha menjaga itu semua. Aku senyum setiap kali ketemu kamu, berusaha jadi tenang, jadi nyaman, jadi nggak nambahin pusing kamu. Aku simpan banyak hal sendiri, bukan karena aku nggak percaya kamu, tapi karena aku takut... kalau aku cerita, kamu makin jauh. Aku cuma butuh diyakinkan. Itu aja. Aku cuma ingin tahu bahwa kamu masih di sini, masih peduli, masih mau sama-sama. Aku butuh diyakinkan bahwa ini bukan jalan yang mul...

Jalan yang kupilih #2: Buntu, Burnout, dan Rencana yang Gagal

Lagi benar benar buntu. Bukan cuma lelah… tapi seperti kehilangan arah. Rasanya burnout banget. Otakku penuh, tapi kosong. Aku pingin cari solusi, tapi semuanya terlihat samar. Pingin ambil keputusan, tapi apa pun yang kupikirkan terasa ga tepat. Semua jadi kabur, dan aku cuma bisa duduk diam sambil berharap semesta memberi petunjuk, tapi ga juga datang. Yang paling bikin sesak, semua rencana yang udah kususun dengan niat dan harapan… hancur begitu aja. Kayak dibuyarkan semesta tanpa penjelasan. Dan aku cuma bisa lihat semuanya runtuh, tanpa bisa ngapa ngapain. Aku sempat bertanya tanya, "apa aku kurang berusaha? atau memang jalan ini bukan untukku?" Tapi semakin dicari, jawabannya justru makin menjauh. Meski begitu, aku tetap hidup. Aku tetap jalan. Meski pelan. Meski ga tahu arahnya ke mana. Aku bertahan dengan seadanya, dengan sisa tenaga, sisa semangat, dan sisa percaya diri. Tapi ternyata itu cukup buat hari ini. Aku belajar bahwa ternyata, bertahan juga butuh keberanian...