Jalan yang kupilih #2: Buntu, Burnout, dan Rencana yang Gagal

Lagi benar benar buntu.

Bukan cuma lelah… tapi seperti kehilangan arah. Rasanya burnout banget. Otakku penuh, tapi kosong. Aku pingin cari solusi, tapi semuanya terlihat samar. Pingin ambil keputusan, tapi apa pun yang kupikirkan terasa ga tepat. Semua jadi kabur, dan aku cuma bisa duduk diam sambil berharap semesta memberi petunjuk, tapi ga juga datang.

Yang paling bikin sesak, semua rencana yang udah kususun dengan niat dan harapan… hancur begitu aja. Kayak dibuyarkan semesta tanpa penjelasan. Dan aku cuma bisa lihat semuanya runtuh, tanpa bisa ngapa ngapain. Aku sempat bertanya tanya, "apa aku kurang berusaha? atau memang jalan ini bukan untukku?" Tapi semakin dicari, jawabannya justru makin menjauh.

Meski begitu, aku tetap hidup. Aku tetap jalan. Meski pelan. Meski ga tahu arahnya ke mana. Aku bertahan dengan seadanya, dengan sisa tenaga, sisa semangat, dan sisa percaya diri. Tapi ternyata itu cukup buat hari ini.

Aku belajar bahwa ternyata, bertahan juga butuh keberanian. Ga semua hal harus punya jawaban saat ini juga. Kadang cukup dengan ga nyerah dulu. Kadang cukup dengan bernafas dan bilang ke diri sendiri, “ga apa apa belum tahu harus ke mana, yang penting belum berhenti."

Dan mungkin, ini juga bagian dari jalan yang kupilih. Ga indah, ga terarah, tapi nyata. Ini bukan tentang jadi kuat setiap waktu, tapi tentang tetap bangun walau hatinya belum pulih. Tentang melangkah walau kaki gemetar.

Kadang berjalan tanpa arah tetap lebih baik daripada diam di tempat yang menyakitkan.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tulisan Untuk G #2: Aku dan Ruang Itu

Surat Dari Peran Lama.

Tulisan Untuk G #5 : Gimana?