Sasa dan Misi Rahasianya

Suatu malam, saat Sasa lagi nulis di atas kasur dengan posisi tengkurap dan rambut diiket asal kayak tahu bulat, ia menulis tiga halaman curhat yang... yah, isinya 40% keluhan, 20% pengakuan dosa kecil, 30% harapan setengah hidup, dan 10% quote ngarang biar terlihat bijak. Beberapa hari ini Sasa mikir, hidup kayak ngeledek. Coba ini itu gagal, temen – temen udah pada sibuk kerja.. nikah.. sementara Sasa, sibuk atur nafas.

Ia nulis:

“Kenapa hidup aku kayak nunggu paket yang statusnya udah ‘on the way’ dari dua tahun lalu?”

Dan saat tinta terakhir itu mengering, tiba-tiba bukunya bersinar. Tapi bukan terang yang bikin silau, melainkan hangat, kayak pelukan dari semesta yang lama ditunggu.

Lalu muncul makhluk kecil seukuran rice cooker. Bulunya biru pastel, matanya besar, kupingnya kayak telinga kucing tapi ada antenanya. Namanya Bij.

“Selamat malam, Sasa!” katanya. “Kamu terpilih.”

“Terpilih buat apa? Jadi Miss Overthinking 2025? Lah emang kamu siapa? Bogel gini?” jawab Sasa.

“Bukan miss overthinking dan jangan ngawur kamu sasa, aku Bij” kata Bij sambil bergaya. “kamu dapat misi rahasia: menyelamatkan dirimu sendiri. Kamu harus selesaikan misimu ini”

“Hah, aku ngatur jadwalku mandi aja susah gimana mau nyelesaiin misi plis!” jawab Sasa penuh rasa mager.

Tapi, tidak perlu lama dan belum sempat mengiyakan perintah Bij, Sasa langsung tersedot masuk ke dalam portal yang tiba – tiba muncul dari dalam bukunya dan membawanya ke beberapa negara yang perlu ia lewati.

🌱 1: Negeri Hareny

Begitu Sasa masuk ke negeri ini lewat portal di halaman bukunya (iya, emang absurd), yang pertama dia liat adalah... orang-orang ngeluh sambil rebahan. Ada yang ngeluh sambil makan es krim. Ada yang ngeluh sambil update story:

"Lagi cape. Plis jangan chat.” “Yang kerja keras juga belom tentu bahagia…”

Di langit, awannya berbentuk deadline. Di tanah, rumputnya kayak kasur. Semua orang tidur. Semua. Bahkan ada satu pria nyender di dinding dan bilang,

“Ngapain semangat? Besok juga gagal lagi.” Ucap salah satu orang yang rebahan. “Scroll tiktok aja yuk” 

“Ngapain kak tidur disini?” tanya Sasa.

“Cape kak. Hidup keras. Kasur empuk.” Jawab pria itu.

Sasa sempet tergoda. Rebahan juga. Tapi tiba-tiba tasnya getar. Ia buka bukunya halaman keempat mulai nulis sendiri:

“Jangan tutup cerita di tengah kalimat, Sa. Lanjut dulu, walau satu paragraf.”

Bij juga bilang “Rebahan tuh ga dilarang, yang dilarang itu tuh pasrah sampai kamu lupa untuk berdiri”

Sasa berdiri, nyelipin headset, muter lagu semangat palsu, dan jalan lagi. Langkahnya pelan.. tapi itu langkah pertama, dan itu cukup hebat. Sampai akhirnya dia masuk ke negeri selanjutnya.

🔮 2: Negeri RoveThink

Ini negeri paling horor. Semua jalan ada cabangnya. Semua pilihan ada popup notifikasi:

“Yakin mau ngambil ini?” "Gimana kalau kamu salah pilih?”

“Apa kata orang nanti?”“ Gimana kalau gagal?” “Anak pertama harus sukses”

Sasa duduk. Bingung. Galau. Terus mikir:

“Kalau aku apply kerjaan A, tapi ternyata passion-ku di B, tapi gajinya di C, terus aku tetap di D, padahal mungkin jodohku di E…”

Akhirnya, ia cuma duduk dan nangis di bawah pohon ragu-ragu. Otaknya mendidih karena... capek mikir. Tapi Bij dateng, bawa spidol putih. Dia nulis di dinding ragu-ragu:

“Bukan semua harus dipikirin. Beberapa cukup dijalanin. Gapapa nggak harus tahu semuanya sekarang, yang penting jalan dulu aja”

Dan saat itu untuk pertama kali Sasa bilang “Yaudah gapapa yuk jalan dulu”. Lalu kabut perlahan hilang. Jalan satu-satunya mulai kelihatan: jalan yang cukup baik, bukan yang sempurna. Sasa mengikuti jalan tersebut sampai akhirnya masuk ke negeri selanjutnya.

🪞 3: Negeri Compa-compare

Di sini, semua orang punya cermin raksasa yang nunjukin versi orang lain yang lebih keren dari Sasa. Terus dia ketemu makhluk aneh, kepala tiga tapi matanya Cuma dua, jadi harus muter terus tiap mau lihat semua orang.

Sasa bilang, “Kenapa sih kamu muter terus?”

Dia jawab, “Soalnya semua orang kelihatan lebih hebat dariku. Jadi aku harus pastiin aku nggak ketinggalan.”

Sasa ngelus dagunya.

Dia ingat… dia juga pernah ngerasa gitu. Pas ngelihat semua temannya udah nikah, udah punya anak, udah kerja tetap.

Sedangkan dia? Masih ngajar les dari rumah ke rumah, dan baju kerjanya kadang nyampur sama baju tidur.

Tapi Sasa nyadar satu hal: Orang yang terus bandingin hidup orang lain… nggak pernah bisa hidupin hidupnya sendiri.

Nah terus, cermin Sasa tiba-tiba nunjukin:

Temennya yang udah kerja tetap. Orang di IG yang jalan-jalan. Anak PPG lain yang lulus P3K. Orang seumurannya yang udah pada menikah dan punya anak.

Orang yang bener-bener... bukan dia.

Sasa ngerasa kecil, gagal dan nggak cukup.

Tiap liat, Sasa makin ciut. Tapi Bij ngeluarin cermin kecil. Cerminnya buram, tapi kalau diliat lama-lama... muncul bayangan Sasa sendiri. Versi dia yang senyum kecil, habis bantu anak – anak belajar, habis nyiapin materi meski ngantuk atau mungkin besok tiba-tiba nggak kepakai.

“Lihat,” kata Bij. “Yang ini kamu. Nggak sempurna. Tapi nyata.”

“Dan yang nyata... lebih penting dari yang kelihatan. Kamu nggak kalah, kamu hanya belum selesai.”

Sasa peluk cermin itu. Untuk pertama kalinya, sasa memeluk dirinya sendiri juga. Tiba – tiba dia tersedot ke cermin itu dan tiba di sebuah Negeri.

🩹 4: Negeri Baik

Di negeri ini, Sasa ketemu cewek-cewek yang punya sayap. Tapi sayapnya rontok karena kepake ngebantu orang lain terus.

Ada yang nemenin orang curhat sampe jam 3 pagi, padahal hatinya sendiri berantakan. Ada yang selalu bilang “iya” padahal pengen banget bilang “enggak.”

Dan di pojok negeri itu, ada seorang gadis. Rambutnya acak-acakan. Tangan kanan pegang to-do list orang lain, masalah dan ekspetasi orang lain. Tangan kiri pegang luka sendiri.

Sasa mendekat.

Gadis itu... ternyata dirinya sendiri.

Bij nyamperin dan bilang pelan:

“Baik itu indah. Tapi kamu juga berhak utuh. Kamu boleh nolak, kamu boleh istirahat, kamu boleh pikirin diri kamu dulu”

Malam itu, Sasa tidur. Dan untuk pertama kalinya, tidak merasa bersalah karena memilih dirinya sendiri. Paginya ia melanjutkan perjalanannya, dan akhirnya sampai di Negeri Piwpiw

✨ 5: Negeri Piwpiw

Tempat ini semacam festival gagal nasional. Semua orang pakai kaos bertuliskan:

“Aku Gagal, Tapi Aku Nggak Tamat.” Ada lomba “jatuh tercepat dari ekspektasi”. Ada stand up comedy bertema “ditolak lamaran kerja.”

Ada panggung terbuka. Orang-orang cerita:

“Aku gagal nikah, tapi sekarang jadi tukang kebun bahagia.”

“Aku gagal kuliah kedokteran, sekarang jadi seniman.”

“Aku gagal P3K... tapi aku masih bisa bangun pagi dan nyeduh teh sambil nyantai.”

Semua ketawa karena mereka tahu, gagal bukan akhir. Gagal hanya belok, kadang belokannya juga lucu dan makin bermakna.

Dan ada Sasa.. duduk nonton sambil mikir “Aku ternyata nggak sendirian”

Sasa nangis. Tapi sambil senyum.

Karena di sini... gagal bukan aib. Gagal bukan tamat. Gagal itu... bagian dari gerakan. Yang penting: terus jalan.

Bij bilang ke Sasa dengan lembut “Banyak orang gagal, semua orang pernah gagal. Tapi nggak semua orang bisa bangkit, dan kamu bangkit, jadi kamu pemenang Sasa”. Sasa melanjutkan perjalanan dengan sisa semangat yang masih membara, sampai akhirnya tiba di Negeri dengan bau roti yang harum.

🌼 6: Negeri Fulgrate

Negeri ini wangi roti baru mateng dan suara gemericik sungai. Setiap orang punya buku kecil bernama “Hal-Hal yang Aku Punya.”

Isinya random:

“Punya temen yang selalu jawab chat.”

“Punya waktu tidur siang.”

“Punya Allah yang nggak pernah ninggalin.”

Sasa buka bukunya. Halaman pertama kosong. Tapi perlahan, muncul tulisan:

“Aku masih hidup. Aku masih bisa milih. Aku masih bisa nulis cerita.”

Sasa duduk lama di bawah pohon syukur. Dan untuk pertama kalinya… Ia nggak nyari apa yang kurang, tapi ngerasain apa yang cukup

Ia tersenyum. Karena itu... cukup.

Sasa melanjutkan perjalanannya, sambil tersenyum dengan hati yang lapang. Perjalanannya sekarang terasa ringan, sampai akhirnya ia tiba di Negeri selanjutnya.

🌈 7: Negeri Sasa

Ini negeri terakhir. Di sini, semua orang duduk di bawah langit biru muda. Mereka narik napas, lalu bilang: “Aku nggak dapet yang aku mau. Tapi mungkin aku dapet yang aku butuh.”

Sasa duduk. Lama. Tanpa kata.

Lalu, untuk pertama kalinya... ia nggak nyari jawaban. Ia hanya bilang:

“Ya Allah... aku jalanin aja ya. Aku belajar percaya dan menerima”

Dan saat itu... tanah di depannya merekah. Muncul jalan baru. Jalan yang nggak ia tahu tujuannya. Tapi kali ini, Sasa nggak takut. Karena ia tau:

“Aku mungkin belum sampai... tapi aku sedang pulang.”

Dan Sasa akhirnya paham.

Nggak semua jalan harus cepat. Yang penting tetap niat. Dan tiap langkah… adalah bagian dari pulang.

“Selamat kamu sudah sampai Sasa” Ucap Bij. “Hah? Sampai dimana?” tanya Sasa dengan bingung. “Ya, kamu sudah sampai, sampai titik dimana kamu sudah tidak mencari validasi selain dari dirimu sendiri. Hanya kamu dan Allah”

Sasa terdiam, dia nyaris berhenti. Tapi dia lihat di tanah, ada jejak kecil. Ternyata jejaknya sendiri. Banyak. Tumpang tindih.

Dia sadar: dia pernah takut, tapi tetap jalan. Pernah gagal, tapi tetap nyoba. Pernah nangis, tapi tetap bangun. Jadi dia tarik napas, terus jalan.

Sampai akhirnya, dia tiba di tempat lapang. Ada satu sosok berdiri di tengah. Rambutnya panjang, bajunya nyaman, matanya damai. Sasa mendekat dan kaget… karena itu adalah dirinya sendiri. Tapi lebih dewasa. Lebih tenang. Lebih yakin.

“Kamu… aku?”

“Iya. Aku versi kamu yang gak nyerah. Yang terus jalan walau lambat. Yang terus nyoba walau capek. Yang tetap lembut walau dunia keras. Aku datang karena kamu terus bertahan.”

Sasa nggak bisa ngomong. Tenggorokannya seret. Dia Cuma manggut pelan.

Versi masa depannya itu lalu memberi sesuatu: buku catatan yang sudah penuh. Di halaman terakhir tertulis:

“Terima kasih karena kamu terus menulis. Terima kasih karena kamu gak ninggalin dirimu sendiri.”

Dan seperti semua petualangan magis, tiba-tiba Sasa terbangun. Di kamarnya sendiri. Di atas kasurnya. Di samping buku journaling yang sekarang... punya halaman ke-8.

Ia buka, dan membaca satu kalimat:

“Selamat datang kembali. Kamu belum selesai. Tapi kamu sudah jauh lebih kuat dari versi kamu yang kemarin.”

Sasa tersenyum. Lalu dia nulis lagi. Eits, tapi akhirnya dia mandi, tanpa mikir 3 jam dulu.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tulisan Untuk G #2: Aku dan Ruang Itu

Surat Dari Peran Lama.

Tulisan Untuk G #5 : Gimana?