Jalan Yang Ku Pilih #4 : Legowo yang Dipaksa

Aku capek. Sungguh. Rasanya kayak jalan di tempat, padahal aku udah lari sekenceng mungkin. Aku udah kuliah, lulus sarjana, sertifikasi, semua jalur resmi udah kujalani. Aku nurut sama sistem, ikutin prosedur, nggak ada yang aku skip. Tapi sekarang, hasilnya apa? dapat hikmah aja hahaha.

Kadang aku nanya ke diri sendiri: salah ya kalau aku milih-milih? Salah ya kalau aku nggak mau gaji kecil? Orang-orang sering bilang, “yang penting kerja dulu, uang bisa nyusul.” Tapi gimana ya, kalau dari awal aja gajinya nggak manusiawi? 300–600 ribu buat kerja sebulan penuh, itu apa nggak sama aja kayak dilecehkan? Rasanya kayak ditampar, kayak dibilang valueku cuma segitu. Padahal aku udah keluarin tenaga, pikiran, biaya buat kuliah, terus sekarang dihargai segitu?

Yang bikin tambah sakit itu komentar orang-orang boomers. Mereka enak banget ngomong, “ya emang prosesnya gitu, dari sedikit dulu.” Ngentot, males banget dengerin. Kita ini hidup di zaman yang beda. Pendidikan udah mahal, kebutuhan makin tinggi. Nggak bisa disamain sama zaman dulu. Kita udah punya value, udah berjuang bertahun-tahun, masa iya alah udahlah.

Aku juga nggak bisa bohong, rasa kecewa paling besar tuh ke pemerintah. Mereka sering bilang guru itu pahlawan tanpa tanda jasa, guru pondasi bangsa, guru mulia. Tapi kenyataan di lapangan? Guru cuma pion, dijadikan alat politik, kesejahteraannya nggak pernah jelas. Plotting guru, formasi ASN, janji-janji manis, semuanya cuma wacana. Sistemnya dzalim, bangsat. Kita yang kerja di lapangan yang babak belur.

Dan jangan salah, bukan berarti aku nggak bersyukur. Aku tahu masih banyak orang di luar sana yang kondisinya lebih susah daripada aku. Aku sadar banget soal itu. Tapi ya anjing lah, tetap aja rasanya nggak adil. Sakit banget rasanya dihargai segini setelah semua usaha dan pengorbanan yang kulakuin. Kalau aku diam aja mungkin bisa dibilang aku emang pemalas dan lain-lain. Sedangkan disini aku enggak pernah diem. Aku jalan terus, usaha terus, sampai 2 tahun ini.

Aku sering banget mikir, apa aku salah langkah? Apa aku kurang doa? Kurang usaha? Tapi kalau aku flashback, aku ini udah usaha mati-matian. Apply ke sana-sini, ikut pelatihan, ngajar privat. Aku nggak diem, aku nggak pasrah. Aku nggak pernah nyerah, sumpah. Tapi tetap aja jalannya susah banget. Rasanya kayak Tuhan lagi nguji aku berkali-kali, sampai aku nggak tahu harus legowo berapa kali lagi. Nerima lagi, nerima lagi.

Sekarang ya aku masih bertahan dengan freelanceku. Itu yang bikin aku masih bisa bernapas. Bisa ngajar anak-anak, meskipun kecil-kecilan. Setidaknya itu bikin aku merasa ada gunanya. Tapi tetap aja, aku tahu kapasitasku bisa lebih dari itu. Aku tahu aku bisa lebih berkembang, lebih bermanfaat. Tapi seolah-olah semua itu nggak dianggap.

Kadang aku sampai mikir, mungkin bener kata orang: nanti kita ini masuk surga lewat jalur rakyat yang didzalimi. Karena udah nggak ada keadilan di sini. Pemerintah anjing, sistem bangsat. Kita dipaksa legowo padahal perihnya udah nggak ketahan.

Aku juga ngerti kok, tiap orang punya jalan masing-masing. Hidup itu sawang sinawang, gampang ngeliat hidup orang lain kayak lebih enak, lebih mulus. Aku tahu itu, aku sadar. Tapi tetep aja, weslah… fuck. Rasanya pedih banget tetep jalan di jalur ini, meskipun katanya semua orang punya waktunya masing-masing.

Aku nulis ini bukan tanda aku menyerah. Aku masih punya mimpi, aku masih punya tenaga meski tinggal sisa. Aku cuma pengen jujur: aku marah, aku kecewa, aku sakit hati. Tapi di balik itu, aku tetap jalan. Aku nggak mau berhenti, karena kalau aku berhenti, aku kalah total.

Aku nggak tahu kapan semuanya berubah. Aku nggak tahu kapan keadilan datang. Tapi aku tahu, aku nggak akan nyerah.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tulisan Untuk G #2: Aku dan Ruang Itu

Surat Dari Peran Lama.

Tulisan Untuk G #5 : Gimana?