Postingan

Menampilkan postingan dari Juni, 2025

Tulisan untuk G #3 : 21 Juni dan Rasa Berharga Itu

Alhamdulillah hari ini. Terima kasih ya Allah, terima kasih juga buat diriku sendiri karena nggak nyerah, karena tetap jalan walau pelan. Langkah kecil hari ini mungkin kelihatan sederhana, tapi buatku ini besar. Aku merasa hidup lagi. Terima kasih, MasG. Terima kasih karena sudah selalu ada. Mungkin kamu pikir itu hal kecil, tapi buat aku, semua yang kamu lakukan hari ini tuh… besar. Berarti banget. Berdiri di sampingku, bantuin aku bagi brosur, ikut mikir, ikut gerak—aku ngerasa nggak sendiri. Hari ini, 21 Juni 2025, bakal aku ingat terus. Bukan cuma soal brosur. Tapi soal rasa ditemani. Soal rasa disupport, dilihat, dan dipercaya. Aku nggak tahu gimana bilangnya, tapi aku bener-bener ngerasa beruntung bisa punya kamu. Kamu bukan cuma dukung aku lewat kata-kata. Kamu turun langsung, temani aku dari awal sampai akhir. Kamu ikut deg-degan, tapi tetap tenangin aku. Aku belum pernah disupport sedekat dan setulus ini. Hari ini bikin aku makin yakin, kalau aku bakal balas semua kebaikanmu ...

Jalan yang Ku Pilih #1 : Tiada yang Meminta Seperti Ini, Tapi Menurutku Allah Itu Baik.

Tiada yang Meminta Seperti Ini, Tapi Menurutku… Allah Itu Baik Tiada yang benar-benar meminta untuk hidup dalam ketidakpastian. Tiada pula yang bercita-cita untuk bangun pagi hanya untuk kembali duduk menunggu. Aku pun tidak. Aku tidak memilih untuk nganggur. Tidak memilih untuk kesana-kemari, mengisi hari dengan “mungkin” dan “semoga”. Tapi aku masih di sini, menanti pengumuman yang bahkan belum tentu datang tepat waktu. pengumuman yang entah kenapa, kini menjadi satu-satunya harapanku. Aku tahu aku sedang tidak di tempat yang menyenangkan. Aku tahu, beberapa hari terasa sunyi, dan di antara sapa orang-orang yang bertanya “Sudah kerja di mana sekarang?”, aku cuma bisa senyum, pura-pura tak peduli. Padahal, aku peduli. Sangat. Aku capek, tapi aku masih percaya. Karena menurutku… Allah itu baik. Allah adalah satu-satunya alasan kenapa aku belum menyerah. Satu-satunya yang masih bisa kutatap tanpa malu ketika malam datang tanpa kabar. Aku yakin meski segalanya tak terlihat jelas sekarang...

Tulisan Untuk G #2: Aku dan Ruang Itu

G, Hari-hari kita nggak selalu penuh tawa. Kadang kamu diam, sibuk, hilang sejenak… dan aku yang biasanya cerewet, jadi ikut diam juga. Tapi bukan karena marah. Hanya sedang berusaha mengerti. Dulu, aku mungkin akan panik. Mengira kamu berubah, mengira aku tidak cukup, mengira banyak hal buruk yang padahal belum tentu nyata. Tapi sekarang aku belajar bahwa mencintaimu juga berarti memberimu ruang. Bahwa perhatian itu tidak selalu hadir lewat kata-kata. Aku tahu, diamnya kamu bukan berarti berhenti sayang. Aku tahu, sibuknya kamu bukan berarti melupakan. Aku tahu, kamu sedang berproses. Dan aku ingin tetap ada, tidak rewel, tidak menuntut, hanya ada. Sebagaimana kamu yang hadir di hidupku tanpa pernah menyuruhku jadi apa-apa. Tapi karena kamu, aku berubah jadi lebih baik. Kalau kamu butuh waktu, ambillah.  Kalau kamu sedang berat, jangan pura-pura kuat. Aku di sini bukan hanya untuk hari bahagiamu, tapi juga untuk hari di mana kamu bahkan lupa cara tersenyum. Semoga Allah selalu mel...

Tulisan Untuk G #1: Kok Bisa?

Kadang aku suka mikir... kok bisa ya, dari semua orang yang pernah lalu-lalang dalam hidupku, akhirnya aku jatuh cinta sama kamu teman TK ku, teman SD, teman ngaji, tetangga SMA sekomplek yang cuma sapaan canggung pas papasan. Dulu, kita ada di sekitaran yang sama, tapi nggak benar-benar dekat. Sekarang, kita jalanin hidup yang saling menggenggam. Gila ya, semesta selucu itu caranya. Tapi aku bersyukur banget. Sebelum kamu datang, aku pernah ada di titik terburukku. Aku pernah salah langkah, pernah menyakiti, pernah jadi orang yang bahkan aku sendiri nggak bangga mengenalnya. Tapi lalu kamu hadir. Nggak dengan paksa, nggak juga dengan janji-janji manis. Kamu hadir begitu saja… dan rasanya cukup. Bahkan lebih dari cukup. Yang lebih ajaib lagi, kamu nggak pernah nyuruh aku jadi orang baik. Tapi karena kamu, aku ingin jadi lebih baik. Bukan cuma untuk diriku sendiri, tapi untuk kamu. Untuk kita. Untuk tujuan-tujuan yang sekarang udah nggak cuma milikku, tapi milik kita berdua. G, aku tahu...

Surat Dari Peran Lama.

Halo. Tulisan ini dibuat dengan penuh penyesalan dan kerinduan untuk berubah menjadi versi diriku yang jauh lebih baik. Bukan hanya agar dimaafkan, tapi agar tak ada lagi hati yang kusakiti karena luka yang belum kupulihkan. Semoga Allah terus membimbing langkahku… dan menjaga hati-hati yang pernah tulus padaku. Baik, dalam tulisan ini aku tidak ingin membela diriku. Aku akui, aku salah. Terlalu welcome pada banyak orang, terlalu mudah memberi mereka harapan, bahkan saat aku sendiri belum selesai dengan lukaku. Aku memaksakan hidup dengan kedok balas dendamku, ya seolah sedihku bisa jadi pembenaran untuk membuka pintu baru, padahal fondasinya rapuh. Aku menjadikan kesedihanku alasan. Masalahku seolah jadi milik bersama, padahal bukan tanggung jawab mereka untuk ikut menanggungnya. Mereka hadir dengan niat menyembuhkan, tapi aku malah menyeret mereka ke luka yang lebih dalam. Aku menyakiti mereka. Aku menyepelekan perasaan mereka. Dan sekarang… aku baru sadar bahwa aku takut. Takut pada...